Hi there. I don't know why, but lately I've been slightly more insightful to these things commonly referred to as "values of life". If you see my recent posts, chances are you recognized their reflective and spiritual nature, also as indicated by the tags "Spiritual", "Life", and "Friendship".
Now, to the main course of this post...
Yesterday (and this morning) I attended the Mass of the 4th Sunday of Easter. Fr. Michal Gitner, one of my favorite priests, elaborated on the homily the importance of this special work--or should I say in more appropriate word, commitment--called vocation.
What is this vocation? What makes it singular, or distinctive, relative to that usual work?
According to the Encarta Dictionary, vocation can be comprehended in two senses:
1. somebody's work, job, or profession, especially a type of job demanding special commitment
2. a strong feeling of being destined or called to undertake a specific type of work, especially a sense of being chosen by God for religious work or a religious life
What the dictionary says is of no difference from what Fr. Michal opined during both Masses. From how he elucidated his views, one could observe that he is outright serious in taking his vocation. He also told us how his family deeply influenced his spiritual life... that made each and every attendant--who, at the moment, was able to visualize or take a glimpse on his family--believe that he came from a faith-affluent family. This holds true, after all.
Fr. Michal seemed to be very proud of his family. He described them as being "down-to-earth faithful", and how they ignited sparks of religious life within him. He recalled, "... I remember every 4.05 in the evening, my family would kneel and pray. They are not fanatical, no; they simply practice Catholic faith..." That's what vocation is, the nearly 50-years-old priest said: to immerse yourself in commitment and to take what you do seriously. "To be a priest... that's also a vocation. So is to live a married life... and to be single," he said. As a trivia, he also expressed how he revels in spending his holiday with his parents and sister.
Now, we should refer back to the fundamental sense of vocation: to be extremely committed to carry out our activities. When we put it that way, we can associate almost everything with vocation. Take our responsibility as students, for instance. Most probably, only a handful of us realize that this particular case can actually be considered a vocation. Many fail to understand the very basic meaning of the process of learning itself, since they have shifted orientation into "taking education for granted". Some are committed, but it is not as an endeavor to seek for the paramount. And if one is claimed by others to be steadfast to be able to sprout the best flower, not for failing to see their true significance... glad are they.
Why is it that this process can be considered a vocation? Well, simply because it requires a fervent commitment, continuously from time to time. You may ask, "Big deal. What happens if we do have that commitment?" It is rhetorical, isn't it? Let us instead elaborate on what does not happen with that commitment; or maybe, for sake of common sense, what happens if we do not have that commitment. All of us must have heard various cases of people dropping out their education, deviating from their purposes of studying, or even getting themselves reeled in a string of educational concerns. These three horrendous cases are but a tiny wee bit of all plausible consequences of not having the aforementioned commitment. Take this process of learning seriously and selflessly, and chances are we have the right to thrive and blossom. As we immerse ourselves in the progress, we gradually pick up all those cognizance offered by the spring of wisdom itself, which, in turn, aids us in developing our acumen and broadening our horizon.
The instance of learning above was just one of the many cases we can consider a vocation. Now, why don't we try to reflect on our own commitment, and find out if it is apt enough to be taken into account as our own present vocation.
God bless all of us =)
Sunday, April 13, 2008
Vocation
Wednesday, April 9, 2008
A Morning Reflection
Hmm... mau sedikit berbagi pengalaman unik aja...
Semalem, gw tidur antara jam 1.05 - 1.14, soalnya post terakhir gw di milis GL itu jam 1.05, dan pas bangun terus ngecek milis, post berikutnya itu time stampnya jam 1.14, dari Eddyman. Di dalem doa tidur gw, gw bilang ke Tuhan, kalo besok (hari ini) gw mau belajar di library dan gw minta tolong dibangunin jam 7 ato sebelum jam 7. Di dalem doa gw juga ada format doa seperti biasa: makasih atas berkat, minta perlindungan sepanjang malem, doa untuk keluarga, doa untuk sahabat-sahabat, dan minta supaya persahabatan gw ama orang yang gw lagi ada masalah itu diperbaiki lagi.
Nah... yang menarik di sini, adalah ternyata gw bangun dengan seger jam setengah 6 pagi. Waaahhh... ga pernah ya seumur-umur, di Singapur, gw tidur cuma 5 jam dan bangun dengan seger... tanpa alarm... gw pasang alarm jam setengah 7 pagi untuk bantuin gw bangun ternyata malah bangun lebih pagi... kali ini gw bangun sebelum alarm bunyi, bukan alarm bunyi sebelum gw tidur (baca: gw baru tidur setelah alarm bunyi gara-gara malemnya begadang) =P
*paragraf berikutnya bakalan void kalo dicoba dimengerti pake science... jadi tolong semua pikiran tentang science--terutama psikologi ama fisiologi--mengenai tidur, mimpi, dan bangun dikesampingkan dulu... karena beberapa hal lebih baik dibiarkan tidak diketahui (gw suka kata-kata itu) =)*
Gw jadi berefleksi... kalo kita minta sesuatu ke Tuhan dalam doa, Dia ternyata pasti mendengar kita. Dan permintaan itu bakalan dikabulkan, bahkan terkadang jawaban dari permintaan kita itu bakalan dateng IN ABUNDANCE, tapi ternyata kita gagal untuk menyadari. Dan pagi ini... gw menganggap gw sendiri cukup beruntung untuk bisa mengalami sendiri bahwa Tuhan ternyata bersedia ngasih kita lebih dari yang kita harapkan dari Dia... dalam hal ini, gw diperbolehin bangun jam setengah 6 pagi. Wowww... dan ternyata setelah gw pikir-pikir, ada banyak hal lagi yang ga kita sadari, misalkan: [1) Kita cuma perlu oksigen untuk napas (bernapas di lingkungan pure oxygen itu ga masalah), dan Tuhan udah ngasih kita udara yang mengandung nitrogen, oksigen, dan gas-gas laen untuk dihirup... oleh semua makhluk: kita, binatang, tumbuhan, bakteri, dan microscopics laennya. 2) Kita perlu lingkungan untuk hidup, dan Tuhan udah ngasih kita alam di sekitar kita ini untuk kita olah. 3) Kita cuma perlu sekedar api untuk menerangi kegelapan, berlindung dari dinginnya malem, ama sumber energi, dan Tuhan udah ngasih kita Matahari untuk melakukan lebih dari itu.] 3 contoh ini cuma sebagian kecil dari kebutuhan kita yang dijawab in abundance... dan gw jadi inget lirik lagunya Marty Haugen, Canticle of the Sun, yang dibuat berdasarkan puisinya St. Francis of Assisi (St. Fransiskus Assisi)... terutama bagian versenya.
Refrain:
The heavens are telling the glory of God
And all creation is shouting for joy
Come, dance in the forest, come, play in the field
And sing, sing to the glory of the Lord
Verses:
1. Praise for the Sun, the bringer of day
He carries the light of the Lord in his rays
The moon and the stars, who light up the way unto Your throne
2. Praise for the wind that blows through the trees
The seas' mighty storms, the gentlest breeze
...
3. Praise for the rain that waters our fields ...
4/5/6. Praise for the fire / earth / death ...
Intinya, lagu ini berisi ungkapan terima kasih seorang St. Francis of Assisi pada semua ciptaan Tuhan, meskipun ga selengkap puisi yang dia bikin. Kalo di puisinya, dia menganggap bahwa semua ciptaan itu sebagai sodara-sodaranya... bahkan, yang paling menarik, dia menganggap kematian itu sebagai "Sister Death". Kadang-kadang ini bikin gw merinding, bukan karena ngeri, tapi karena takjub... gimana bahkan St. Francis bener-bener memuji dan bersyukur atas the very Death herself... di mana orang laen pada takut dengan kehadirannya. Tapi gw ga akan bahas itu di sini; mungkin laen kali aja kalo kita punya waktu untuk song reflection laennya =)
Back to topic... dan begitu gw bangun, gw berdoa lagi untuk berterima kasih... bahwa gw udah dibangunin lebih pagi dari yang gw harapkan... dan gw juga minta berkat untuk gw, keluarga, ama sahabat-sahabat untuk melakukan aktivitas di hari ini... ga lupa gw berdoa juga untuk masalah yang lagi gw alami (sejak Minggu kemaren, gw selalu menyertakan masalah itu di dalem doa).
Jadi... yah, cobalah untuk ngeliat apa yang udah Dia berikan untuk kita... siapa tahu, Dia ternyata udah mengirim jawaban untuk permasalahan kita di sekitar kita dengan jumlah yang banyak... tapi kitanya aja yang ga nyadar... semoga pengalaman ini bikin gw lebih aware dengan keadaan sekitar kita dan apa yang ada di dalemnya.
Selamat pagi dunia! Sambutlah sinar emas Matahari dengan senyum! God bless you all! ^.^
Monday, April 7, 2008
A Letter to the Lord
Aku sudah berbuat kesalahan yang sangat parah... aku sudah meruntuhkan persahabatanku dengan seorang teman baik. Apa yang sudah aku perbuat...?
Betapa sekarang aku bersedih dalam kesendirian... hanya dapat menunggu hingga Sang Waktu menjahit kembali benang-benang yang terlepas dari persahabatan kami... tapi benang-benang itu sekarang sudah tersebar di mana-mana, dan aku tahu pasti, semuanya akan memerlukan waktu yang sangat lama bahkan untuk mengumpulkan mereka kembali. Dan sebagaimana pastinya ada benang yang luput dari pandangan Sang Waktu, akan ada pula kenangan dan momen yang terlupakan dari persahabatan kami akibat perbuatanku ini...
Sungguh, Tuhan, aku tidak bermaksud untuk berbuat seperti itu. Bahkan aku tidak menduga bahwa aku akan berbuat seperti itu. Namun, setelah mengetahui bahwa aku benar-benar melakukannya... aku seperti tidak dapat memaafkan diriku sendiri. Hingga sekarang pun aku masih bingung... apa yang harus aku lakukan? Hilanglah sudah semuanya. Aku tidak pantas lagi ia percaya.
Sekarang, yang bisa kulakukan adalah membuktikan bahwa aku benar-benar tidak bermaksud untuk melakukannya. Bantulah aku, Tuhan... semoga aku bisa berbuat baik untuknya... untuk semua orang... sebagai permintaan maafku padanya... siapa yang tahu jika aku tidak akan mendapat kesempatan lain untuk meminta maaf? Siapa yang tahu jika esok hari napasku sudah Engkau tarik kembali? Hanya Engkau yang tahu... dan jikalau aku memang tidak bisa menunjukkan bahwa aku menyesal atau ia tetap melihatku sebagai orang yang jauh dari perkiraannya... mungkin aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.
Tuhan... meskipun aku tahu bahwa ini tidak mungkin, aku ingin kembali ke hari itu... untuk memperbaiki apa yang telah kuperbuat saat itu... dan menjalani hari-hari kami seperti sebelum semua masalah ini terjadi. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun yang menjadi temanku, apalagi teman baik... aku sudah berkali-kali melewati masa kesepian, dan tahu bahwa perasaan sepi itu terus menusuk jiwaku... aku tidak mau hal ini terjadi dalam personifikasi yang lebih buruk lagi...
Aku percaya bahwa Engkau akan datang kepada siapa pun yang memanggil-Mu dalam masa kesulitan, dan akan membantunya... maka, terinspirasi oleh lirik dari sebuah lagu, aku berdoa kepada-Mu,
Ajarilah aku untuk menggunakan waktu yang kumiliki...
Ajarilah aku untuk tetap sabar meskipun berada dalam penantian...
Ajarilah aku untuk menerima semua kesenangan dan kepedihan...
Ajarilah aku untuk tidur dengan tenang dan bangun dengan bersemangat...
Sebab Engkaulah tempat bernaung dan harapanku sepanjang masa...
In every age, You have been our refuge... you have been our hope.
Anakmu,
Abhyasa Naradhipa
Friday, March 28, 2008
Another Perspective
Holy darkness, blessed night
Heaven's answer hidden from our sight
As we await you, o God of silence
We embrace your holy night
~ Holy Darkness by Dan Schutte, inspired by St. John of the Cross ~
I found this song in the Breaking Bread a few months ago. The title, Holy Darkness, was noteworthy for me. So I decided to take a look at the song and sang it.
... marvelous.
Dan Schutte's works are always of superb and ear-friendly tune. Take a glance at Here I Am Lord, City of God, or Though the Mountains May Fall, and listen to them. They are beautiful works of a composer. Aside from the tonal works, what made me compelled to reflect was primarily the lyrics of Holy Darkness.
Darkness.
Everyone seemed to think of it as a negative word. True, as for me, I don't like darkness as well, since darkness can and will discomfort me very badly. People frequently associate darkness with something bad, evil, horrible, you name it.
This song pierces through our cognizance about darkness. It's simply an exact opposite from what we have in mind.
Just reading the refrain makes me reflect...
He's there to comfort us whenever we are sad.
He's there to lift us whenever we are depressed.
He's there to be our hope whenever we are desperate.
He's there to die on the cross for our sins.
Basically, He's always there in our hours of darkness. So, why should we fear and feel discomforted by darkness? Maybe because in darkness we don't know where to go. Our senses don't work as they're supposed to. We lose direction. But that doesn't mean we lose our faith!
Let me jump to the song's fourth verse.
In your deepest hour of darkness
I will give you wealth untold
When the silence stills your spirit
Will my riches fill your soul
This particular verse brings to us yet another reason why we shouldn't think of darkness as an unpleasant issue. It strongly implies that He does not leave us even in its totality.
We often think whenever we are in darkness, He forsakes us and is unwilling to help.
And now I know that it's wrong...
As we struggle in darkness, He struggles to help us...
And tries to comfort us in its silence.
Just remember that He made darkness to negate us of our daily anxieties, so that we may rest relaxedly. It's not meant to have us be frightened or freaked out.
So, Loving God, we thank you for your holy darkness.
God bless you all ^_^
